Sejarah Jemaat
Perjalanan GKI Zaenal Zahse
Sebuah kisah yang bermula dari pekabaran Injil di tanah Sukabumi pada abad ke-19, bertumbuh melalui sekolah dan balai pengobatan, hingga menjadi jemaat yang berdiri kokoh di Jl. Zaenal Zahse hari ini.
Utusan NZV Tiba
Awal pekabaran Injil di tanah Jawa Barat
Majelis Pertama
Kelahiran Jemaat THKTKH Jawa Barat
Nama GKI Jabar
Identitas gerejawi yang dikenal kini
Jl. Zaenal Zahse
Gedung ibadah tetap No. 15 Sukabumi
Awal Mula & Pekabaran Injil
Benih Injil di Tanah Sukabumi
Nama Sukabumi mulai dikenal sejak 13 Januari 1815, menggantikan nama Goenoeng Parang yang beribukota di Tjikole, seiring berkuasanya Andries de Wilde di kawasan kaki Gunung Gede. Dari kota kecil kolonial inilah, empat dekade kemudian, benih Injil mulai ditaburkan oleh para utusan dari Belanda.
Nederlandse Zendings Vereeniging (NZV), badan zending yang lahir dari perpecahan dengan NZG karena perbedaan pandangan iman, mengirim rombongan pertamanya dari Rotterdam pada 16 April 1862. Setibanya di Jakarta setahun kemudian, mereka menemukan pos-pos pekabaran Injil yang sudah lebih dulu ada, lalu berpencar ke berbagai wilayah Jawa Barat — menabur benih yang kelak bertumbuh menjadi Jemaat Indramayu, Patekoan, Cirebon, Bandung, dan Sukabumi.
Pelayanan & Pertumbuhan
Pendidikan, Kesehatan, dan Buah Pelayanan
Sebelum tahun 1867, komunitas Tionghoa hampir tidak ada di Sukabumi. Barulah setelah perkebunan teh, kopi, dan karet dibuka di dataran tinggi sekitarnya, mereka mulai berdatangan — dan pada momen itulah NZV melihat peluang pelayanan. Pdt. P.N. Gijsman diutus merintis sebuah sekolah Kristen, yang usahanya kemudian diperluas oleh Pdt. A. Albers dengan membuka balai pengobatan.
Menariknya, warga Tionghoa justru lebih tertarik pada sekolah dan pengobatan ini dibanding warga Sunda — sehingga tidak mengherankan bila orang Tionghoa pertama yang dibaptis, Oey Keng Tjiat, membuka jalan bagi banyak lainnya untuk mengikuti jejaknya.
Tonggak Perjalanan Pelayanan
Langkah demi langkah sejarah pertumbuhan dan karya Allah dalam kehidupan jemaat GKI Zaenal Zahse.
Kedatangan NZV di Jawa Barat
Rombongan pertama Nederlandse Zendings Vereeniging, dipimpin Pdt. Albers, Pdt. Grashuis, dan Pdt. D.J. Van der Linden, tiba di Jakarta pada 5 Agustus 1863 dan mulai berpencar mengabarkan Injil di Jawa Barat.
Benih Pertama di Sukabumi
NZV mengutus Pdt. P.N. Gijsman untuk merintis pelayanan di Sukabumi, dilanjutkan Pdt. A. Albers yang membuka sekolah Kristen dan balai pengobatan sebagai pintu masuk pekabaran Injil.
Jemaat Bertumbuh
Anggota Jemaat Sukabumi tercatat berjumlah 122 orang, terdiri dari 106 orang Tionghoa dan 16 orang Sunda — buah dari pelayanan sekolah dan balai pengobatan selama tiga dekade.
Pemisahan dan Kelahiran Dua Jemaat
Pada 5 Maret 1939, Jemaat memisahkan diri menjadi Jemaat THKTKH Jawa Barat dan Gereja Kristen Pasundan. Rapat Majelis pertama diadakan di rumah Kel. Tjoa Eng Tjan, meneguhkan Majelis pertama pada 19 Maret 1939.
Menjadi GKI Jawa Barat
Tiong Hwa Kie Thok Kauw Hwee Khoe Hwee Jawa Barat berganti nama menjadi Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat, menandai identitas gerejawi yang dikenal hingga kini.
Gedung di Jl. Zaenal Zahse
Setelah masa perjuangan Panitia Pembangunan pada 1971–1973, GKI berhasil membeli tanah dan bangunan di Jl. Tarikolot No. 9 — kini Jl. Zaenal Zahse No. 15 — pada 22 November 1973.
Lahirnya Pelayanan Panti Kasih
Digagas oleh Ibu Nani Yohana, Panitia Panti Kasih terbentuk 5 September 1975 dan berkembang menjadi Komisi Panti Kasih pada November tahun yang sama — cikal bakal pelayanan bagi lanjut usia.
Panti Kasih di Lokasi Baru
Sejak 25 November 1984, pelayanan Panti Kasih menempati lokasi yang lebih luas di Jl. KHA. Sanusi No. 30, tempat pelayanan ini terus berlangsung hingga sekarang.
Refleksi & Masa Depan
Warisan Iman bagi Generasi Mendatang
Perjalanan panjang ini tidak berhenti di gedung dan tahun berdirinya. Jemaat yang kini bernaung di Jl. Zaenal Zahse adalah kelanjutan dari keputusan-keputusan berani para pendahulu — mulai dari rapat Majelis pertama di rumah keluarga Tjoa Eng Tjan pada 1939, hingga kerinduan seorang jemaat, Ibu Nani Yohana, untuk melayani lanjut usia yang kemudian tumbuh menjadi Komisi Panti Kasih. Sejarah ini menjadi pengingat bahwa gereja bukan sekadar bangunan, melainkan kesaksian iman yang terus dirawat dari satu generasi ke generasi berikutnya.