Sejarah Jemaat

Perjalanan GKI Zaenal Zahse

Sebuah kisah yang bermula dari pekabaran Injil di tanah Sukabumi pada abad ke-19, bertumbuh melalui sekolah dan balai pengobatan, hingga menjadi jemaat yang berdiri kokoh di Jl. Zaenal Zahse hari ini.

1863

Utusan NZV Tiba

Awal pekabaran Injil di tanah Jawa Barat

1939

Majelis Pertama

Kelahiran Jemaat THKTKH Jawa Barat

1956

Nama GKI Jabar

Identitas gerejawi yang dikenal kini

1973

Jl. Zaenal Zahse

Gedung ibadah tetap No. 15 Sukabumi

Awal Mula & Pekabaran Injil

Benih Injil di Tanah Sukabumi

Nama Sukabumi mulai dikenal sejak 13 Januari 1815, menggantikan nama Goenoeng Parang yang beribukota di Tjikole, seiring berkuasanya Andries de Wilde di kawasan kaki Gunung Gede. Dari kota kecil kolonial inilah, empat dekade kemudian, benih Injil mulai ditaburkan oleh para utusan dari Belanda.

Nederlandse Zendings Vereeniging (NZV), badan zending yang lahir dari perpecahan dengan NZG karena perbedaan pandangan iman, mengirim rombongan pertamanya dari Rotterdam pada 16 April 1862. Setibanya di Jakarta setahun kemudian, mereka menemukan pos-pos pekabaran Injil yang sudah lebih dulu ada, lalu berpencar ke berbagai wilayah Jawa Barat — menabur benih yang kelak bertumbuh menjadi Jemaat Indramayu, Patekoan, Cirebon, Bandung, dan Sukabumi.

Pelayanan & Pertumbuhan

Pendidikan, Kesehatan, dan Buah Pelayanan

Sebelum tahun 1867, komunitas Tionghoa hampir tidak ada di Sukabumi. Barulah setelah perkebunan teh, kopi, dan karet dibuka di dataran tinggi sekitarnya, mereka mulai berdatangan — dan pada momen itulah NZV melihat peluang pelayanan. Pdt. P.N. Gijsman diutus merintis sebuah sekolah Kristen, yang usahanya kemudian diperluas oleh Pdt. A. Albers dengan membuka balai pengobatan.

Menariknya, warga Tionghoa justru lebih tertarik pada sekolah dan pengobatan ini dibanding warga Sunda — sehingga tidak mengherankan bila orang Tionghoa pertama yang dibaptis, Oey Keng Tjiat, membuka jalan bagi banyak lainnya untuk mengikuti jejaknya.

Kronologi

Tonggak Perjalanan Pelayanan

Langkah demi langkah sejarah pertumbuhan dan karya Allah dalam kehidupan jemaat GKI Zaenal Zahse.

Tahun 1863

Kedatangan NZV di Jawa Barat

Rombongan pertama Nederlandse Zendings Vereeniging, dipimpin Pdt. Albers, Pdt. Grashuis, dan Pdt. D.J. Van der Linden, tiba di Jakarta pada 5 Agustus 1863 dan mulai berpencar mengabarkan Injil di Jawa Barat.

Tahun 1867

Benih Pertama di Sukabumi

NZV mengutus Pdt. P.N. Gijsman untuk merintis pelayanan di Sukabumi, dilanjutkan Pdt. A. Albers yang membuka sekolah Kristen dan balai pengobatan sebagai pintu masuk pekabaran Injil.

Tahun 1900

Jemaat Bertumbuh

Anggota Jemaat Sukabumi tercatat berjumlah 122 orang, terdiri dari 106 orang Tionghoa dan 16 orang Sunda — buah dari pelayanan sekolah dan balai pengobatan selama tiga dekade.

Tahun 1939

Pemisahan dan Kelahiran Dua Jemaat

Pada 5 Maret 1939, Jemaat memisahkan diri menjadi Jemaat THKTKH Jawa Barat dan Gereja Kristen Pasundan. Rapat Majelis pertama diadakan di rumah Kel. Tjoa Eng Tjan, meneguhkan Majelis pertama pada 19 Maret 1939.

Tahun 1956

Menjadi GKI Jawa Barat

Tiong Hwa Kie Thok Kauw Hwee Khoe Hwee Jawa Barat berganti nama menjadi Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat, menandai identitas gerejawi yang dikenal hingga kini.

Tahun 1973

Gedung di Jl. Zaenal Zahse

Setelah masa perjuangan Panitia Pembangunan pada 1971–1973, GKI berhasil membeli tanah dan bangunan di Jl. Tarikolot No. 9 — kini Jl. Zaenal Zahse No. 15 — pada 22 November 1973.

Tahun 1975

Lahirnya Pelayanan Panti Kasih

Digagas oleh Ibu Nani Yohana, Panitia Panti Kasih terbentuk 5 September 1975 dan berkembang menjadi Komisi Panti Kasih pada November tahun yang sama — cikal bakal pelayanan bagi lanjut usia.

Tahun 1984

Panti Kasih di Lokasi Baru

Sejak 25 November 1984, pelayanan Panti Kasih menempati lokasi yang lebih luas di Jl. KHA. Sanusi No. 30, tempat pelayanan ini terus berlangsung hingga sekarang.

Refleksi & Masa Depan

Warisan Iman bagi Generasi Mendatang

Perjalanan panjang ini tidak berhenti di gedung dan tahun berdirinya. Jemaat yang kini bernaung di Jl. Zaenal Zahse adalah kelanjutan dari keputusan-keputusan berani para pendahulu — mulai dari rapat Majelis pertama di rumah keluarga Tjoa Eng Tjan pada 1939, hingga kerinduan seorang jemaat, Ibu Nani Yohana, untuk melayani lanjut usia yang kemudian tumbuh menjadi Komisi Panti Kasih. Sejarah ini menjadi pengingat bahwa gereja bukan sekadar bangunan, melainkan kesaksian iman yang terus dirawat dari satu generasi ke generasi berikutnya.